Beranda » Info Wisata » Sejarah Labuan Bajo sejak 1940

Sejarah Labuan Bajo !

Destinasi ini adalah pintu gerbang ke Taman Nasional Komodo, rumah bagi keindahan alam yang menakjubkan dan hewan purba yang ditemukan di seluruh dunia. Mulai dari fauna endemik komodo di pulau Rinca dan Komodo, sederet pulau eksotis, keanekaragaman hayati bawah laut hingga pantai yang memukau, semuanya bisa Anda temukan dari Labuan Bajo. Jika sobat kreatif ingin berpetualang di Labuan Bajo. Jangan lewatkan pengalaman seru hidup di atas kapal saat Anda mencoba bermalam di atas kapal Phinisi selama beberapa hari sambil berlayar mengunjungi pulau-pulau indah. Anda juga bisa menyelam untuk melihat keindahan bawah laut Labuan Bajo yang luar biasa.

Penduduk

Mata pencaharian penduduk Pulau Bajo adalah nelayan tradisional dengan alat tangkap seperti pancing dan jaring Jumlah tangkapan ikan rata-rata adalah 1-2 ikat (1 kat=11-15 ekor ikan) dengan jenis yang dominan adalah ikan kembung dan tenggin Hasa tangkapannya ini kemudian dijual ke TPI Labuan Bajo Sudah sejak lama penduduk tidak pernah mencan ikan di sekitar perairan pulau Bajo, menurut mereka semakin lama, semakin sulit mendapatkan ikan di sekitar pulau Untuk itu

Saat ini Pulau Bajo memiliki 6 rumah dengan 5 penghuni tetap dan 1 penghuni tidak tetap, dengan total populasi 22 orang. Empat keluarga (19 orang) tinggal di rumah panggung di bagian utara pulau, dan dua keluarga (3 orang) tinggal di rumah kayu di bagian selatan pulau yang sudah tinggal di Pulau Bajo selama kurang lebih 20 tahun.

Mata pencaharian masyarakat Pulau Bajo adalah nelayan tradisional dengan menggunakan alat tangkap berupa joran dan jaring yaitu ikan tenggiri dan hasa. Tangkapan Tenguin Dijual ke TPI Labuan Bajo Sudah lama warga di perairan Pulau Bajo tidak menangkap ikan, dan menurut mereka, semakin lama semakin sulit mendapatkan ikan di sekitar perairan pulau Bajo, mereka mencari ikan sampai di perairan Pulau Rinca.

Sejarah

Sejarah Pulau Bajo dimulai pada tahun 1940-an ketika orang-orang bermigrasi dari Goa di Makassar dan mencari tempat menetap di Pulau Bajo. adalah pemukiman orang Bajo, dan tempat kapal mereka berlabuh di seberang pemukiman itu sekarang disebut ‘Labuan Bajo’. Ada rumah biasa yang terbuat dari kayu dan jalan serta batu yang disusun sebagai penghubung. Sumber air diperoleh dari sumur gali, namun air yang diperoleh bersifat payau. Nenek moyangnya mencari nafkah dengan bertani dan ingin menjadi nelayan. Sebagai kegiatan tambahan mereka membuat kolam ikan di bagian utara pulau.

Haji Salamat, generasi keenam dari abdi dalem pulau itu, yang disebut “Labuan Bajo”, mengatakan bahwa dahulu kala, pemukiman di Pulau Bajo, tempat tinggal nenek moyangnya, sangat teratur, dengan rumah-rumah yang dibangun dari kayu, dan jalan serta batu diletakkan. keluar untuk menyambung sumber air yang diperoleh dengan menggali sumur, meskipun air yang diperoleh bersifat payau. Nenek moyangnya adalah nelayan dan hidup dari bertani dan menangkap ikan. Sebagai kegiatan tambahan, mereka membuat tambak di bagian utara pulau. Generasi terakhir (kelima) hidup pada masa penjajahan Jepang di Indonesia di Pulau Bajo sekitar tahun 1941-42. Saat itu warga ingin menyekolahkan anaknya, maka mereka pindah ke Labuan Bajo, bekas sekolah di Ruteng (Manggarai) yang bisa dijangkau mobil. Pulau Bajo kini digunakan sebagai tempat peristirahatan perahu nelayan dan wisata karena perairannya yang tenang dapat menahan perahu dari ombak dan sangat dekat dengan pusat kota Labuan Bajo. Di sebelah utara dan timur pulau terdapat bangunan Thal (tidak resmi), rumah nelayan migran, dan pulau lainnya.

Soal keadaan tanah di Pulau Bajo itu tanah biasa, sekitar 3.000 meter persegi sudah ada hak pakai bangunan dan beberapa hektar sudah dialokasikan ke Departemen Kelautan, menurut kantor BPN setempat.Ada informasi. Administrasi dan perikanan milik Negara NTT (namun belum diterbitkan sertifikatnya, terdaftar di BPN) milik Negara NTT yang direncanakan sebelum TPI, namun saat ini generasi Punggawa Bajo milik Pulau Bajo Pemerintahan pemerintahan yang tidak peduli jika dikembangkan, akan dipertahankan selama bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Labuan Bajo, dan dengan syarat mencadangkan tanah sekitar 50 meter persegi untuk makam leluhur Pungawa Bajo.

Labuan Bajo-min

Paket Labuan Bajo

 

Wisata

Terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991, Taman Nasional Komodo terdiri dari Komodo, Rinca, Padar dan beberapa pulau terdekat. Keberadaan kadal terbesar di dunia, monitor Komodo (Varanus komodoensis), pertama kali disebutkan dalam sebuah jurnal ilmiah pada tahun 1912. Majalah ini ditulis oleh Peter Antoni Owens, Direktur Museum Zoologi Bogor. Penemuan tersebut menandai awal keberadaan Labuan Bajo di mata dunia, karena banyak wisatawan dan ilmuwan berbondong-bondong untuk melihat Ora yang oleh penduduk setempat disebut sebagai Komodo.

Selain komodo,

Taman Nasional ini juga terkenal dengan panoramanya yang memukau. Sobat kreatif yang hobi berfoto sebaiknya merencanakan beberapa spot sebagai lokasi pemotretan. Dengan latar belakang pulau-pulau kecil berbukit dan gradasi laut biru, sebut saja Pulau Padar yang ikonik. Pulau Kelor juga tak kalah keren. Pemandangan pulau dan laut biru jernih dari atas Pulau Kelor tidak boleh dilewatkan.

Seperti namanya, ini adalah pantai yang eksotis dan indah dengan pasir merah muda. Pantai Pink, juga dikenal sebagai Pantai Mela di Pulau Komodo, adalah salah satu dari tujuh pantai berpasir merah muda di dunia. Latar belakang Pantai Pink yang istimewa sangat cocok dijadikan spot foto. Wisatawan tidak hanya bisa menikmati pemandangan pantai, tapi juga melihat keindahan alam bawah laut sambil snorkeling dan diving. Wisatawan dapat bersentuhan dengan berbagai macam ikan, karang, dan biota laut lainnya. Tak heran jika snorkeling menjadi aktivitas Pantai Pink yang paling populer dan digemari.

Oleh Oleh

Jika Sobat Pesona ingin membawa pulang oleh-oleh sepulang dari Labuan Bajo, ada beberapa oleh-oleh unik yang tidak boleh dilewatkan, seperti kain Sonke khas Manggarai. Kain ini umumnya berwarna hitam dengan motif beraneka warna. Seperti tekstil Indonesia lainnya, motif sonke sangat beragam dan memiliki arti tersendiri.

Berikut beberapa motivasi Sonke yang perlu Anda ketahui :

-Langon (laba-laba) melambangkan kejujuran dan kerja keras.

-Wela Kawu (Bunga Kapuk) menandakan hubungan antara manusia dengan lingkungan alamnya.

-Wela Runu (Bunga Runu) melambangkan Manggarai seperti bunga kecil, tetapi sumber keindahan.

-Ntara (bintang) yang berarti harapan baik dan doa.

-Jui (Garis) memiliki filosofi yang mendalam bahwa segala sesuatu memiliki akhir.

Sobat Kreatif bisa mampir ke pusat oleh-oleh di depan Bandara Internasional Komodo untuk mengambil kain sonke ini.
Hidangan khas Labuan Bajo juga bisa disiapkan sebagai oleh-oleh, seperti: Kopi Manggarai dengan rasa pahitnya yang unik, roti Kompiang yang terbuat dari tepung wijen, dan makanan ringan bernama rebok yang terbuat dari olahan tepung beras dan parutan kelapa.

Paket Outing Labuan Bajo

Ingin berlibur ke Labuan Bajo dengan biro perjalanan Labuan Bajo terpercaya, pastikan kami memiliki itinerary Labuan Bajo yang sesuai dengan budget dan kebutuhan Anda. Untuk mendapatkan hasil maksimal dari liburan Anda, Anda harus memilih Paket Outing Labuan Bajo dari Inti Jasa Kreatif  Hubungi kami di 0813-3339-3630

 

 

 

 

 

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.

error: Content is protected !!